Mudik Asyik a la ‘Backpacker’

​Sebenarnya bukan a la backpacker yang bawa2 backpack sih, lebih tepatnya mudik irit tanpa bagasi ;D

So.. This is it… Hope you enjoy it ;D

Bismillah
Mudik kali ini merupakan mudik terpanjang dan terdahsyat bagi kami sekeluarga (ayah, bunda, dan aisy 8 m.o). Melintasi beberapa daerah di Indonesia, dimulai dari Medan-Jakarta-Bandung-Jogja- Banda Aceh-Medan-Aceh Tenggara.

Untuk mencapai bandara terdekat (Medan, Kualanamu), kami harus menempuh perjalanan darat selama 8 jam. Dikarenakan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, maka terpaksa mudik dipercepat 1 hari dari rencana awal.

Shock. Belum packing, beberes rumah, mengosongkan kulkas, sikat kamar mandi, setrika, beli oleh2, semuaaaaanya belum dilakukan. Kami hanya ada waktu sekitar 8 jam untuk menyiapkan semuanya, ditambah ‘iklan’ dari ‘anak gadis’, tentu bukan hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan semuanya. Akhirnya semua dilakukan ala kadarnya, sampai2 beberapa item ada yang tertinggal, karena sudah keburu dijemput travel😁.

Packing kali ini terasa ‘spesial’, karena kami tidak membeli bagasi, sehingga barang bawaan kami tidak boleh lebih dari 7 kg. Baju saya dan aisy harus muat dalam 1 diaper bag aisy. Untuk perjalanan selama 15 hari saya hanya bisa membawa baju 4 pasang untuk bepergian dan1 baju tidur. Irit, hihi. Padahal biasanya saya selalu membawa baju pergi dan baju rumah dalam jumlah yang ‘lumayan’, maklum, karena gampang risih, kotor dikit pinginnya ganti, hehe.

Jam 4 pagi kami sampai di Kota Medan, kami sahur, lalu ke tempat kakek buyutnya aisy. Kami singgah 1 hari di Kota Medan. Keesokan harinya, setelah sahur kami menuju bandara Kualanamu dengan menggunakan kereta api railink (mumpung ada promo murmer, hihi). Pesawat kami berangkat pukul 8.40 pagi. Alhamdulillah selama di pesawat aisy tertidur dan tidak rewel^^.

Sampai di Jakarta kami menuju penginapan untuk beristirahat karena keesokan harinya kami harus melanjutkan perjalanan ke bandung dengan kereta api. Pagi harinya, kami sempat hampir tertinggal kereta, karena aisy rewel. Sampai² kami harus lari², dengan kondisi suami membawa 1 tas ransel dan 2 tas jinjing, sedangkan saya menggendong aisy dengan ssc. Kami lari-lari menaiki dan menuruni anak tangga di Stasiun Senen, Jakarta. Mana sempat ada tragedi cari2 KTP nggak nemu2, alhamdulillah dibolehin pakai paspor. Wow banget rasanya. Alhamdulillah merasa sangat terbantu pakai ssc, bayangkan kalau tanpa pakai gendongan lari2 bawa bayi. Dan Alhamdulillah kami penumpang terakhir sebelum pintu kereta ditutup. Legaaa rasanya.

Sampai di bandung siang hari, kami harus berjalan kaki dulu sekitar 10 menit untuk mencari becak menuju rumah bibi. Kami di bandung selama 4 hari, karena tidak dapat tiket kereta ke jogja sebelum tanggal 4 juli.

Hari kedua di bandung, qaddarullah aisy demam, kemungkinan karena kecapekan dan suhu kota bandung yang dingin. Sampai² hari ketiga disana, aisy dipijat oleh dukun bayi, inisiatif dari bibi suami. Rasanya ngelihat anak sendiri dipijat dengan ekstrem itu rasanyaaaa. Duh. Tangan ditarik2, kaki ditarik2, dionclang2, sampai nangis jejeritan.

Paginya kami melanjutkan perjalanan ke kampung halaman saya, Yogyakarta, dengan kereta api. Kami sampai di stasiun tugu sore hari. Dari stasiun kami jalan menuju shelter bis transjogja yang terdekat, yaitu di malioboro, sekaligus mencari kaos Jogja pesanan kakek buyut aisy.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang telah kami pesan jauh2 hari, karena dapat promo muraaahh diskon 50%, hihi. Kami sampai di penginapan menjelang maghrib. Alhamdulillah demam Aisy saat itu sudah agak turun. Setelah check out kami menginap di rumah paman saya.

Iedul fitri pun tiba. Rencananya kami akan sholat ied di daerah Pogung, tempat kos saya ketika masih kuliah dulu. Namun karena sudah kesiangan dan jalanan sudah padat merayap, akhirnya kami sholat di alun-alun.

Selepas sholat dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke rumah teman suami ketika haji dulu. Kami kesana dengan menggunakan sepeda motor. Melintasi 2 kabupaten dan kota Yogyakarta.
Qoddarullah HP suami jatuh dua kali selama di perjalanan. Kali pertama jatuh di pom bensin dan ditemukan oleh petugas pom dengan kondisi layar dan lcd sudah retak, mungkin tertindih kendaraan, namun Alhamdulillah masih bisa digunakan.

Sampai di pertengahan jalan, ternyata suami baru sadar kalau kantong kokonya robek, qoddarullah hp diletakkan suami disana, sudah dihubungi tidak berhasil. Alhasil perjalanan kami jadi tidak relaks, karena kepikiran HP yang hilang.
Sekitar jam 2 siang kami pamit dan melanjutkan perjalanan untuk mencari Grapari Telkomsel untuk minta kartu baru dengan nomor yang lama.

Pertama kami coba ke cabang terdekat di Jl. Lowanu, tapi ternyata tutup. Lalu kami nekat ke Jl. Sudirman dekat Gramedia, walaupun kami tidak yakin kalau buka, tapi kami sangat berharap buka, karena besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan. Sampai di Grapari Jl. Sudirman kami kira tutup, kami hanya berdiri didepan pintunya dan membaca jam buka yang terdapat di pintu. Iseng2 mendorong pintunya ternyata bukaaa, xixi. Jadi geli sendiri kalau diingat2. Akhirnya proses ganti simcard dengan nomor yang lama berhasil. Disana kami sempat numpang minum dan icip2 kuker yang disediakan, hihihi.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Aceh. Kami menuju bandara dengan bis TransJogja.

Selama perjalanan, aisy lumayan rewel, hingga akhirnya akan mendarat aisy rewelnya semaakin menjadi², susah ditenangkan.

Alhamdulillah kami sampai di Banda Aceh dengan selamat. Dikarenakan kedua orangtua saya dan suami sama2 telah meninggal karena tsunami, maka kedatangan kami kesini bertujuan untuk menyambung tali silaturahim dengan keluarga saya dan suami, sekaligus memperkenalkan aisy, karena aisy belum pernah diajak ke banda aceh sebelumnya.

Dua malam di banda, kami melanjutkan perjalanan ke Medan. Alhamdulillah selama di pesawat aisy saaangaat happy, masyaAllah, nggak tahu kenapa. Padahal saya nya udah parno dan trauma kalau2 aisy nangis kejer lagi, hehe.

Begitu sampai di Medan kami singgah ke rumah kakek selama 1 malam untuk beristirahat. Keesokan harinya kami pulang ke Aceh Tenggara dan kembali ke rutinitas harian^^.

Kesan-kesan mudik tahun ini: Meskipun cukup melelahkan tapi Alhamdulillah sangat bersyukur karena masih bisa mengunjungi dan bersilaturahim dengan sanak keluarga yang sudah lama tak bertemu bahkan bisa bertemu dengan adik kakek di Banda Aceh yang belum pernah bertemu sebelumnya (alhamdulillah nambah mahram, hehe), tapi ada sedihnya karena ketika ke Jogja belum bisa bertemu dengan simbah tersayang. Semoga masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu kembali. Aamiin^^

Tulisan ini telah diikutkan pada kompetisi menulis cerita mudik yang diadakan oleh owner Gendongan Nana via Facebook dan mendapatkan Juara Pertama.

Kurang dahsyat dan seru ya? Iyaa, karena memang ada beberapa part yang sengaja saya skip,hihi.. Maafkeun, demi kebaikan bersama, hehe.

Selesai ditulis pada, Kamis, 14 Juli 2016, 20.00 WIB, di Kutacane, Aceh Tenggara.

Advertisements

16 thoughts on “Mudik Asyik a la ‘Backpacker’

  1. What? Packing2 mudik cuma 8 jam aja? hebat, mak. Aku mah bakal sutres kalau mepet gitu mah. Waktu jalan ke Bali, buat sendiri aja aku mastiin h-1 semuanya udah aman. Drama banget, ya mudik kali ini. Aku lebaran ga heboh, di Bandung aja sih. Paling jauh maen ke Tasik aja hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s