Data Strategis: Bonus Demografi dan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu topik hangat yang kerap menjadi sorotan dari berbagai pihak. Naik dan turunnya angka pertumbuhan ekonomi sering dikaitkan dengan kondisi penduduk di wilayah tersebut, dimana penduduk dengan jumlah yang besar selalu dihubungkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi. Hal ini memunculkan paradigma bahwa penduduk dengan jumlah besar berkontribusi terhadap terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan juga sebagai salah satu penyebab munculnya berbagai permasalahan di beberapa aspek seperti kemiskinan, pengangguran, kesehatan yang buruk, serta tingkat pendidikan yang rendah.

Namun sebenarnya ada hal penting dan seharusnya mendapat perhatian lebih, yaitu terkait struktur umur penduduk di suatu wilayah. Simon Kuznet (1967) dan Julian Simon (1981) secara terpisah berpendapat bahwa seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, meningkat pula persediaan kecerdasan manusia. Manusia – manusia cerdas dan produktif akan memanfaatkan dengan baik sumber daya alam yang ada di muka bumi serta mengembangkan teknologi sehingga dengannya output perekonomian akan meningkat. Dengan demikian, sebenarnya jumlah penduduk dan pertumbuhan yang besar bukanlah secara langsung menunjukkan besarnya permasalahan yang terjadi, akan tetapi besarnya jumlah penduduk justru bisa dioptimalkan jika kita memahami perubahan struktur umur penduduk di suatu wilayah.

Proses perubahan struktur umur penduduk (transisi demografi) terjadi secara berkelanjutan dan dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan struktur umur penduduk Indonesia dapat terjadi karena adanya proses (tahapan) berikut:

Bonus demografi Indonesia
Transisi Demografi. Sumber: Indriastuti (2014)
  • Pada awalnya angka kematian bayi (mortalitas) dan angka fertilitas tinggi.
  • Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, ketersedian makanan dan juga fasilitas kesehatan akan semakin membaik, sehingga terjadi penurunan tingkat kematian (mortalitas). Penurunan mortalitas tidak langsung diikuti oleh penurunan fertilitas. Penurunan mortalitas menyebabkan semakin banyaknya bayi yang mampu terus bertahan hidup (angka harapan hidup meningkat).
  • Lama kelamaan, angka fertilitas mengalami penurunan karena bertambahnya kesadaran masyarakat tentang kontrasepsi. Sehingga tingkat kelahiran dan tingkat kematian dapat ditekan yang mengakibatkan pertumbuhan penduduk menjadi rendah.
  • Pada akhirnya, angka kematian dan angka kelahiran menurun, sehingga terjadilah ledakan penduduk usia produktif (bonus demografi) akibat pergeseran struktur umur penduduk.

Bonus demografi Indonesia

Sebagai negara berkembang yang memiliki penduduk terbanyak ke-4 di dunia, Indonesia kini sudah memasuki era bonus demografi. Apakah sebenarnya bonus demografi itu?

Bonus demografi (demographic devidend) merupakan suatu keadaan dimana proporsi jumlah penduduk usia produktif (penduduk usia kerja 15 – 64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (penduduk usia muda 0 – 14 tahun maupun penduduk usia tua 65 tahun ke atas).

Terjadinya bonus demografi ditandai dengan angka beban ketergantungan (rasio ketergantungan) berada di bawah 50. Angka beban ketergantungan 50 menunjukkan 100 penduduk usia produktif menanggung 50 penduduk usia tidak produktif. Dengan kata lain, suatu negara akan mengalami bonus demografi ketika terdapat 2 penduduk usia produktif yang menanggung 1 orang penduduk usia tidak produktif.

Angka beban ketergantungan yang tinggi menunjukkan bahwa penduduk usia produktif mempunyai beban yang lebih besar dalam menanggung kebutuhan (terutama kebutuhan ekonomi) penduduk usia tidak produktif (usia muda dan tua).

Tingginya fertilitas mengakibatkan beban penduduk usia muda meningkat, sehingga kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan juga akan meningkat. Sedangkan apabila fertilitas mengalami penurunan, rasio ketergantungan akan kembali meningkat, akan terjadi pergeseran struktur umur penduduk, beban penduduk usia tua akan meningkat sehingga diperlukan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan akan fasilitas kesehatan hari tua, jaminan sosial serta infrastruktur untuk penduduk usia lanjut.

Bonus demografi Indonesia

Bonus demografi akan terjadi manakala pertumbuhan penduduk usia muda mengalami penurunan, sedangkan pertumbuhan penduduk usia kerja mengalami peningkatan. Kondisi yang demikian mengakibatkan penduduk usia kerja dapat menabung dari hasil kerjanya, sehingga terjadi percepatan modal. Selain itu rendahnya tanggungan terhadap penduduk usia muda membuka peluang tercapainya pertumbuhan ekonomi.

Beberapa definisi bonus demografi berikut ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara pertambahan penduduk usia kerja dengan pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah:

  • Menurut Adioetomo (2007), bonus demografi dapat diartikan sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh penurunan angka ketergantungan sebagai hasil proses penurunan kematian bayi dan penurunan fertilitas jangka panjang. Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan proporsi penduduk muda mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dapat dialihkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
  • Menurut John Ross (2004), bonus demografi terjadi karena penurunan kelahiran yang dalam jangka panjang menurunkan proporsi penduduk muda sehingga investasi untuk pemenuhan kebutuhannya berkurang dan sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Sebagai bentuk transisi demografi, angka beban ketergantungan suatu saat akan mencapai titik terendah yang disebut jendela peluang (window of opportunity). Ini merupakan fenomena yang unik karena hanya terjadi satu kali pada suatu wilayah. Oleh karena itu, kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar potensi yang ada dapat berkembang dan membantu peningkatan pembangunan, khususnya di Indonesia.

Bonus demografi Indonesia
Angka Ketergantungan Penduduk menggunakan proyeksi Sensus Penduduk 2010. Sumber: BPS (2012)

Data Statistik Indonesia menunjukkan bahwa penduduk Indonesia saat ini masih didominasi oleh kelompok usia produktif, yaitu penduduk dengan rentang usia 15-34 tahun. Dengan demikian, berarti Indonesia telah mengalami bonus demografi dan diperkirakan akan memasuki puncaknya pada tahun 2025-2030. Momentum bonus demografi ini harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tercapai.

Bonus demografi Indonesia

Dari data statistik terkait hasil proyeksi penduduk Indonesia, didapatkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2016 sebesar 258 juta jiwa yang terdiri dari laki-laki 129,98 juta jiwa dan perempuan 128,71 juta jiwa. Dari data ini didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 101. Dengan kata lain, dari 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki.

Dari data Indonesia dalam angka menunjukkan tren rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk Indonesia dari tahun 1971 sampai tahun 2016 terus mengalami penurunan, yaitu sebesar 86,8 pada tahun 1971 menurun hingga 48,4 pada tahun 2016. Rasio ketergantungan sebesar 48,4 menunjukkan bahwa dari 100 penduduk usia produktif menanggung 48 penduduk usia tidak produktif.

Bonus demografi Indonesia

Sebagai ibukota negara Republik Indonesia, DKI Jakarta telah terlebih dahulu mengalami penurunan dependency ratio dibandingkan dengan propinsi lainnya. Hal ini disebabkan adanya migrasi masuk, baik migrasi risen (tempat tinggal sekarang berbeda dengan tempat tinggal lima tahun yang lalu) maupun migrasi seumur hidup (tempat tinggal sekarang berbeda dengan tempat kelahiran) oleh mayoritas kepala kepala keluarga yang merupakan tenaga kerja usia produktif. Faktor ekonomi seperti kesempatan kerja yang lebih terbuka, upah yang tinggi serta keinginan memperoleh impian hidup yang lebih baik merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya migrasi.

Bonus demografi Indonesia

Bagaikan pisau bermata dua, bonus demografi memiliki dampak positif dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Berikut ini dampak positif serta tantangan dalam menghadapi bonus demografi, khususnya di Indonesia.

Todaro (2004) menjelaskan bahwa pertumbuhan penduduk pada akhirnya akan meningkatkan jumlah angkatan kerja. Jumlah tenaga kerja yang besar akan menambah jumlah tenaga produktif. Positif atau negatifnya dampak pertambahan penduduk dan tenaga kerja bagi pembangunan ekonomi tergantung pada kemampuan sistem perekonomian yang bersangkutan untuk menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut.

Masih berdasarkan penjelasan Todaro (2004), populasi yang besar merupakan pasar potensial yang menjadi sumber permintaan akan berbagai macam barang dan jasa yang kemudian akan menggerakkan berbagai macam kegiatan ekonomi. Dengan demikian akan tercipta skala ekonomis produksi, biaya-biaya produksi mengalami penurunan, dan tersedia sumber pasokan tenaga kerja dalam jumlah yang memadai sehingga merangsang tingkat output menjadi lebih tinggi.

Menurut Adioetomo (2007) transisi demografi yang berimplikasi terhadap meledaknya jumlah penduduk usia kerja dapat menguntungkan pertumbuhan ekonomi melalui empat hal, yaitu:

Pertama, suplai tenaga kerja yang besar meningkatkan pendapatan per kapita apabila mereka mendapat kesempatan kerja yang produktif.

Tenaga kerja merupakan aktor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja Indonesia terus menerus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Hal ini mengakibatkan tenaga kerja juga mengalami transisi ketenagakerjaan. Penurunan angka kematian bayi dan semakin meningkatnya angka harapan hidup mengakibatkan bayi terus hidup hingga usia dewasa dan memasuki usia produktif.

Kedua, melalui peran perempuan. Penurunan fertilitas yang berdampak pada sedikitnya jumlah anak memungkinkan perempuan untuk memasuki pasar kerja sehingga dapat terjadi peningkatan pendapatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) membedakan penduduk usia produktif menjadi 2 kategori, yaitu penduduk usia sangat produktif (15-49 tahun) dan penduduk usia produktif (50-64 tahun). Jumlah penduduk usia sangat produktif perempuan pada tahun 2016 lebih sedikit dibandingkan laki-laki yaitu 69,4 juta berbanding 70,4 juta. Namun jumlah penduduk usia produktif perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki yaitu 16,91 juta berbanding 16,90.

Ketiga, tabungan masyarakat yang diinvestasikan secara produktif.

Banyaknya penduduk usia kerja dalam suatu keluarga memungkinkan keluarga tersebut untuk menabung sebagian dari penghasilannya. Tabungan ini jika diinvestasikan secara produktif akan memperbaiki dan bahkan mempercepat terjadinya pertumbuhan ekonomi, baik di lingkup keluarga maupun lingkup yang lebih besar lagi.

Penelitian oleh Sharma, 2007 yang dilakukan di negara China menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomian China pada awalnya didukung oleh peningkatan tenaga kerja dan juga oleh kapital. Namun data menunjukkan perubahan teknologi turut memberi andil dalam pertumbuhan perekonomian China.

Namun studi empiris yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa investasi dan tabungan lebih berperan daripada teknologi dan tenaga kerja dalam membangun perekonomian negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada pola tertentu yang dapat mewakili pola pertumbuhan ekonomi di suatu Negara secara pasti pada periode tertentu.

Keempat, modal manusia yang besar apabila terdapat investasi untuk itu.

Anwar & Pungut (1993) mengungkapkan bahwa perkembangan produktivitas pekerja selama berlangsungnya pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh perkembangan stok barang modal, perkembangan mutu tenaga kerja, peningkatan skala unit usaha, pergeseran dari kegiatan yang relatif lebih rendah produktivitas ke yang lebih tinggi, perubahan komposisi output pada masing-masing sektor dan pergeseran teknik produksi dari padat karya ke padat modal.

Bonus demografi Indonesia

Proses pembangunan harus menjamin bahwa kualitas penduduk yang memasuki usia kerja sudah berada pada tingkat yang diinginkan dan pekerja tersebut juga menemukan kesempatan untuk bekerja (Chandrasekhar, Ghosh, dan Roychowdhury, 2006).

Sayangnya ada beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi dalam proses pembangunan ini yang telah dirangkum dalam infografis di bawah ini:

1. Angka pengangguran yang masih cukup tinggi

Bonus demografi Indonesia
Klik gambar untuk memperbesar

2. Kualitas SDM yang masih cukup rendah

Bonus demografi Indonesia

3. Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kontrasepsi

Bonus demografi Indonesia

4. Masih adanya gizi buruk pada balita

Bonus demografi Indonesia

5. Masih tingginya angka kematian bayi

Bonus demografi Indonesia

Bonus demografi Indonesia

Agar momentum bonus demografi tidak terlewatkan dengan sia-sia, pemerintah Indonesia harus melakukan persiapan menuju puncak bonus demografi. Persiapan ini harus dilakukan agar penduduk usia produktif siap menghadapinya yang dengannya diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Bloom (2007) mengemukakan bahwa perubahan struktur umur penduduk dapat menimbulkan dampak besar pada kinerja ekonomi karena persediaan tenaga kerja dan tingkat tabungan bervariasi selama siklus hidup. Peningkatan penduduk yang berusia panjang juga dapat meningkatkan persediaan tenaga kerja dan tingkat tabungan.

Ditangkap atau tidaknya potensi (bonus demografi) ini tergantung pada kebijakan daerah setempat. Bila potensi ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka sebaliknya yang akan terjadi adalah meningkatnya jumlah pengangguran yang akan berdampak pada keadaan sosial dan ekonomi masyarakat.

Adapun strategi maupun upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi bonus demografi antara lain:

Bidang ketenagakerjaan

  • Memberikan pelatihan kerja dan juga praktek langsung dalam dunia kerja sehingga mampu meningkatkan produktivitas penduduk usia kerja.
  • Menciptakan dan menambah lapangan pekerjaan kerja baru, terutama sektor swasta dan memaksimalkan potensi alam yang ada di Indonesia.
  • Mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah

Bidang Pendidikan

  • Memberikan pembekalan dan pendampingan dalam pengelolaan usaha bagi siswa yang baru menyelesaikan masa studinya seperti pada siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
  • Meningkatkan kualitas pendidikan SDM melalui program wajib belajar 12 tahun.
  • Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan.
  • Meningkatkan kualitas tenaga pengajar.

Bidang Kesehatan

  • Memaksimalkan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya penggunaan kontrasepsi.
  • Penyuluhan tentang gizi, kesehatan reproduksi dan pernikahan dini.
  • Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan terutama untuk menghadapi penduduk usia tua yang jumlahnya semakin meningkat.
  • Meningkatkan kualitas tenaga kesehatan

Oleh sebab itu, momentum ini harus dipersiapkan dengan matang dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar tidak terlewat begitu saja. Ini merupakan PR besar bagi kita bersama, terutama bagi pemerintah Indonesia dalam menyambut puncak momen bonus demografi. Semoga ketika waktunya telah tiba, pemerintah kita telah siap dalam menghadapi segala konsekuensinya, sehingga dengannya perekenomian dan kualitas hidup rakyat Indonesia akan semakin sejahtera.

Bonus demografi Indonesia

Ternyata dengan mengenali Indonesia dalam angka (data), yaitu dengan mengamati dan memahami data-data statistik yang ada di Indonesia kita dan juga pemerintah dapat mengetahui berbagai kondisi yang ada di Indonesia. Dengan data, pemerintah juga dapat merumuskan berbagai permasalahan yang ada dan juga mencari jalan keluarnya melalui program-program maupun kebijakan-kebijakan yang strategis dan tepat guna.

Bagaimana Cara Mengenali Indonesia Dengan Data?

Di jaman yang serba digital ini, untuk melihat data-data statistik di Indonesia kita tidak perlu repot-repot melihat dari buku maupun akses dari perpustakaan. Kini, hanya dengan koneksi internet yang memadai kita sudah bisa mengakses berbagai data-data di Indonesia terutama yang menyangkut masalah ekonomi dan bisnis melalui web databoks.

Bonus demografi Indonesia

Databoks.co.id merupakan portal statistik ekonomi dan bisnis yang merupakan bagian dari katadata (perusahaan riset dan media online yang telah berdiri sejak tahun 2012).

Databoks hadir untuk memberikan kemudahan kepada pengusaha, pelaku bisnis, periset, pelajar, pemerintah, dan media untuk mencari dan mengolah data ekonomi dan bisnis secara cepat untuk berbagai keperluan, seperti presentasi, pembuatan laporan, dan juga memperkuat pemberitaan di media. Selain itu, databoks juga memberikan fasilitas pada perusahaan untuk mempublikasikan data, sehingga para pemangku kepentingan (stakeholder) bisa dengan cepat mengetahui informasi perusahaan.

Bonus demografi Indonesia
Kelebihan Databoks

Simplicity is the Ultimate Sophistication (Leonardo Da Vinci)

Kalimat tersebut kemudian dijadikan sebagai motto Katadata dan juga pedoman produk-produk katadata (termasuk di dalamnya databoks). Dan memang untuk mengakses data di Databoks sangatlah mudah dan simpel. Kita hanya perlu memasukkan kata kunci dan klik tombol search. Pilih data yang kita kehendaki, dan data dapat disimpan dengan mudah dalam bentuk file (pdf) maupun gambar (png), dan juga dapat berupa embed code yang mudah kita masukkan ke dalam blog.

Sekian yang dapat saya paparkan. Semoga bermanfaat dan dapat memberi gambaran tentang bonus demografi, khususnya di Indonesia. Nah, kalau menurut teman-teman, dapatkah Indonesia menghadapi puncak bonus demografi dengan baik sehingga pertumbuhan ekonomi tercapai? Share yuk di kolom komentar ya^^

Salam,

♥Dina Safitri♥


Sumber Referensi:

Databoks

Badan Pusat Statistik (BPS). 2012. Analisis Statistik Sosial, bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi. Jakarta : Badan Pusat Statistik.

Indriastuti, Devi. 2014. Masa Depan Pemuda Aceh. Banda Aceh. Badan Pusat Statistik.

Optimalisasi Pemanfaatan Bonus Demografi. 2014. Paparan Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK.

Tim Penulis Lembaga Demografi FEUI. 2010. Dasar – Dasar Demografi. Jakarta: Salemba Empat.

Kenali Indonesia dengan Data

Tulisan ini diikutsertakan dalam #DataBlog Competition dengan Tema “Kenali Indonesia dengan Data

Advertisements

19 thoughts on “Data Strategis: Bonus Demografi dan Pertumbuhan Ekonomi

  1. Lengkaaaap banget mbak din ulasannyaa 😊😊 bonus demografi sebenarnya memberikan banyak keuntungan dibanyak sektor untuk pembangunan negeri ini asalkan disertai oleh kerjasama dr seluruh lini dan sektor utamanya pendidikan dan kesehatan. Penekanan laju pertumbuhan penduduk perlu juga dilakukan agar bonus demografi ini benar” kita dapatkan. Seperti semboyan anak cukup 2 dan jangan menikah diusia terlalu dini.😁 Good luck mbaak. All the best yaaak. .

    Like

    1. Betul mba, untuk mencapai bonus demografi di Jepang memang sepertinya sudah direncanakan sejak dahulu, jadi mereka sudah jauh lebih dulu mengalami puncak bonus demografi. Namun sayangnya hal ini juga menyebabkan rendahnya angka kelahiran bayi d jepang, sehingga dikhawatirkan kuantitas generasi penerus sedikit dan jumlah penduduk usia non produktif (tua) semakin meningkat mba. Terima kasih sudah berkunjung..

      Like

  2. lengkap banget mba mantap dan seharusnya semua sektor saling berkaitan sehingga setiap program yang dicanagkan dalam bonus demografi ini akan berjalan sesuai dengan rencana. gudluck mba 🙂

    Like

  3. Baru ini paham apa itu bonus demografi. Biasanya cuma tahu bonus belanja, hehe. Maklum, kependudukan bukan bidang saya. Akhirnya kurang referensi tentang itu. Tapi abis baca blog Mbak Dina jadi tahu deh. Moga laju pertumbuhan penduduk tak terlalu menjulang dan perekonomian selalu stabil. Aamiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s