Perjalanan ke Pulau Samosir

Pulau Samosir merupakan pulau vulkanik yang terletak di tengah-tengah danau Toba, Sumatera Utara. Pulau ini terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Toba puluhan ribu tahun yang lalu menjadi kaldera yang terkenal dengan sebutan Danau Toba.

Perjalanan ke Pulau Samosir

Danau Toba sendiri merupakan destinasi wisata favorit baik bagi turis lokal maupun mancanegara. Bagaimana tidak, Danau Toba ini tercatat sebagai danau terbesar di Indonesia dan juga Asia Tenggara, yaitu seluas 100 km x 30 km.

Baca juga: Ke Batam Ngapain Aja?

Awalnya nggak pernah kepikiran sih bakal traveling ke Danau Toba, terutama ke Pulau Samosir. Tapi ternyata, di suatu malam, saat ada promo kamar (hotel) gratis di Pulau Samosir (cuma bayar pajak aja Rp 14.000,-) yang padahal harga awalnya 500 ribuan/malam, akhirnya suami mengajak saya untuk traveling kesini. Sengaja dipilih waktu yang berdekatan dengan tanggal dinasnya suami, biar sekalian capeknya, hehe. Kami sudah booking penginapan tersebut untuk dua malam.

Baca juga: Nginap di Hotel Bintang 4 Cuma 10 Ribu Aja!

Perjalanan ke Pulau Samosir
Cuma Rp 14.000,- aja!

Sengaja saya tulis itinerary-nya disini karena sepertinya belum banyak (atau malah belum ada ya?) yang menulis tentang perjalanan dari Kutacane, Aceh Tenggara ke Samosir, atau lebih tepatnya daerah Tuk Tuk Siadong.

Langsung saja ya.. Ini dia detail perjalanan kami kemarin dari Kutacane menuju ke Tuk Tuk Siadong:

Baca juga: Itinerary Penang & Phuket 5D4N

Dari Aceh Tenggara (Kutacane) kami naik kendaraan semacam L300 tapi ukurannya sedikit lebih besar (mungkin seperti mini bus ‘jadul’ kali ya? Hehe) menuju Pematang Siantar, Sumatera Utara. Harga per tiket adalah Rp 80.000,-. Nama ‘bus’ yang kami naiki adalah BTN Jaya (Bintang Tani Jaya). BTN ini merupakan moda transportasi andalan ketika kami ke Medan, karena armadanya ada banyak (hampir setiap jam ada). Nah, tapi khusus untuk rute Kutacane – Pematang Siantar hanya ada 1 jadwal keberangkatan saja, yaitu setiap jam 7 pagi setiap harinya. Kami sengaja memilih kursi di depan sendiri supaya bisa leluasa melihat jalanan yang baru bagi kami.

Sekitar jam 7 pagi kami pun dijemput BTN, sebenarnya packing kami saat itu masih belum selesai, barang masih tercecer di sana-sini, belum sarapan, dan lain-lain. Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya langsung deh buru-buru berangkat.

Alhamdulillah perjalanan kami lancar. Kami beristirahat di daerah Tiga Binanga untuk makan siang. Fyi, seluruh BTN (baik yang ke Medan maupun Pematang Siantar) akan transit di terminal pembantu (yang juga merangkap sebagai rumah makan) di daerah Tiga Binanga.

Perjalanan ke Pulau Samosir
Terminal Pembantu & mobil BTN yang menuju ke Medan. BTN yang menuju ke Prapat berwarna kehijauan dan ukurannya lebih besar.

Kami biasanya makan di seberang terminal pembantu BTN, karena penjualnya berjilbab dan gratis nasi tambah (jadi bisa beli 1 lauk lengkap dengan 1 nasi + 1 nasi tambah), irit tapi kenyang, hehe. Menu favorit kami adalah sop sapi. Rasanya maknyus, dan harganya murah. 1 porsi sop + nasi hanya Rp 15.000,- (+ free 1 nasi tambah).

 

Perjalanan ke Pulau Samosir
That’s why kami memilih rumah makan yang penjualnya berjilbab
Perjalanan ke Pulau Samosir
Supnya kebetulan tinggal kuah dan 3 potong daging aja (dikasih for free, hihi), jadi lauknya semur ayam.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pematang Siantar. Sekilas perjalanan menuju Pematang Siantar ini pemandangannya seperti Berastagi, hanya saja terlihat lebih natural (karena tidak banyak bangunan-bangunan di sepanjang jalan). Banyak terdapat kebun-kebun di sepanjang jalan, seperti kebun jeruk, strawberry, tomat, labu parang, dan sayur-sayuran yang lainnya. Beberapa kebun membolehkan pengunjungnya untuk memetik sendiri buah-buahan maupun sayuran yang diinginkan.

Perjalanan ke Pulau Samosir

Selang beberapa jam kemudian, kami sampai di kota Pematang Siantar. Kami pun melanjutkan perjalanan kami dengan kendaraan umum semacam angkot untuk menuju ke Prapat. Perjalanan dari Pematang Siantar menuju Prapat setidaknya memakan waktu hingga 1 jam lamanya. Lumayan capek sih naik dengan angkot, terlebih lagi bawa bayi dan banyak barang. Jadi kalau teman-teman mau ke Prapat dan pingin bisa sedikit leluasa bergerak, ada baiknya naik bis saja. Sebenarnya banyak bis-bis besar menuju Prapat, misalnya bis Sejahtera.

Namun sayangnya kemarin kami terburu-buru karena takut ketinggalan kapal Ferry yang terakhir menuju Tuk Tuk Siadong, yaitu sekitar pukul 5 sore.

Banyak terdapat kawasan hutan dan juga perkebunan kelapa sawit di sepanjang jalan menuju ke Prapat. Yang membuat kami berdecak kagum adalah ketika Danau Toba telah nampak di sisi kanan jalan. Sungguh pemandangan yang begitu asri dan indah, banyak terdapat orang utan yang berbaris di pinggir-pinggir jalan. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera turun dari angkot, hihi.

Akhirnya sampailah kami di pinggir Danau Toba. Untuk menuju ke Pulau Samosir (daerah Tuk Tuk Siadong) kami harus menyeberangi danau dengan kapal Ferry. Sebenarnya jika naik angkot kami harus berjalan kaki dulu dari jalan raya menuju ke dermaga. Namun, Alhamdulillah ketika di Pematang Siantar, supir BTN tadi sudah berpesan kepada supir angkot untuk menurunkan kami tepat di dermaga, walaupun kami harus membayar ekstra (+Rp 5.000,-/orang). Biaya tambahan ini tidaklah seberapa, karena kami takut ketinggalan kapal terakhir dan baby Aisy saat itu sudah cukup rewel karena dari pagi tidak mau nyusu, hiks.

Alhamdulillah kapal Ferry yang kami naiki mulai berlabuh tidak sampai 5 menit setelah kami masuk. Untuk menyeberangi Danau Toba menuju ke Tuk Tuk Siadong, kami hanya perlu membayar Rp 15.000,- per orang.

Kami memilih untuk duduk di lantai 2, karena kami kira pemandangannya akan lebih bagus jika dilihat dari atas, walaupun belakangan kami menyadari bahwa ternyata lebih bagus jika dari lantai 1, hihi.

Sekitar setengah jam kemudian, sampailah kami di pinggiran Tuk Tuk Siadong. Yang bikin bahagia, kita akan diantar oleh kapal Ferry tersebut tepat sampai di depan hotel yang kita tuju. Kebetulan hotel yang kami tempati termasuk hotel yang diantar belakangan karena letaknya bisa dikatakan yang paling jauh.

Perjalanan ke Pulau Samosir
Bye Bye!

Akhirnya kami sampai tepat di depan hotel dengan selamat. Oiya, ‘tangga’ untuk naik dan turun kapal ini menurut saya cukup mengerikan, apalagi kalau sambil gendong bayi. Karena ‘tangga’nya hanya berupa papan kayu panjang (lebarnya kurang lebih hanya 50 cm) yang disekat dengan kayu yang membujur horisontal setiap kurang lebih 70 cm. Bisakah teman-teman membayangkannya? Hihi. Pokoknya bagi saya mah ekstrim banget, horor euy, kalau kepeleset antara jatuh ke kapal atau ke danau.

Hotel yang kami tempati bernama Anju Cottage. Kamar kami terletak di lantai 2. Overall sangat puas dengan kamar dan segala fasilitasnya (insyaAllah akan saya review juga hotelnya di mbakdina.com, tunggu ya^^).

Perjalanan ke Pulau Samosir

Sayangnya kami hanya bisa menginap untuk 1 malam saja karena jadwalnya bertabrakan dengan dinas suami. Alhasil keesokan harinya, setelah sarapan kami langsung check out dan menunggu kapal jemputan menuju ke Prapat.

Oiya, jadwal kapal keberangkatan kapal yang pertama adalah pukul 7.30 dan akan ada setiap 1 jam sekali. Untuk naik ke kapal, kita hanya perlu menunggu di depan hotel saja.

Untuk pulangnya, kami sengaja memilih duduk di bawah. Dan benar saja, ternyata pemandangannya memang lebih indah lho, hihi. Walaupun sesekali tercium bau kurang sedap yang sepertinya berasal dari bahan bakar.

Perjalanan ke Pulau Samosir
View dari kapal (maaf ngeblur ;p)

Rencananya dari Prapat kami akan langsung menuju ke Medan dengan menaiki bis Sejahtera seharga Rp 40.000,- per penumpang. Untuk dapat naik bis, dari pelabuhan ke jalan besar (Prapat) kita bisa naik angkot selama kurang dari 5 menit dan turun di jalan raya.

Alhamdulillah begitu turun dari angkot, kami bisa langsung naik bis Sejahtera. Bis yang kami naiki seperti bis umum pada umumnya (tidak full AC), walaupun katanya jika beruntung kita bisa dapat bis Sejahtera terbaru yang Full AC.

Kami duduk tepat di belakang supir. Sayangnya kursi yang kami tempati untuk tiga orang, jadi berasa sempit dan panas (karena kami perjalanan di siang hari). Belum lagi bisnya selalu full dan juga kondisi jalanan yang macet karena sedang hari libur nasional.

Alhamdulillah kami sampai di Medan dengan selamat, sekitar pukul 4 sore. Kami turun di pemberhentian terakhir, yaitu di Terminal Amplas, Medan. Dari terminal kami jalan keluar lalu naik angkot MRX lalu turun di Masjid Raya Medan, kemudian naik becak menuju rumah kakek buyutnya Aisy yang berada di Medan Area.

Phewww, akhirnya selesai juga rangkaian perjalanan kami. Yang cukup membuat exhausted menurut kami malah perjalanan dari Prapat ke Medan, karena bener-bener geraahh banget di sepanjang jalan, berasa kurang oksigen karena panas dan bis full, hihi. Dan ditambah lagi dalam kondisi yang penuh, sesak, dan pengap, ada penumpang yang membawa tuak (sejenis minuman beralkohol) berdirigen-dirigen ke dalam bus. Dududu, baunya sukses membuat saya pusing. Walaupun Alhamdulillah  sekali saat itu kami nggak mabuk kendaraan.

Tetapi meskipun demikian, Alhamdulillah kami sangat bersyukur bisa jalan-jalan ke Danau Toba dan Pulau Samosir (Tuk Tuk Siadong) dengan low budget, hihi.

Baca juga: Pengalaman Pertama Ke Luar Negeri

Oiya, kalau teman-teman udah pernah ke Danau Toba dan Pulau Samosir? Disana kemana aja? Share yuk^^. Soalnya kami kemarin cuma staycation aja di hotel, habis bingung mau kemana, badan udah capek banget dan waktunya juga cuma terbatas, hehe.

See you on next post ya, insyaAllah^^

Salam,

♥Dina Safitri♥

Advertisements

20 thoughts on “Perjalanan ke Pulau Samosir

  1. Hotelnya di pulau samosir nya ya mba.. wah pasti kece di sana. Apalagi kalau bisa keliling pulau. Mba saya pernah ke sana cuma kami nginapnya di prapat. Waktu di samosir masih kebayang sampai sekaramg tari sigale2nya,

    Like

  2. Aaaa bagus banget ya mbak Samosir tuh
    Sejuk, damai. Enak lah buat penghilang penat hihihi
    Bisa baca juga perjalanan saya ke Samosirhttp://rtyaspermanablogspot.co.id/2015/07/sehari-di-danau-toba_14.html?m=1

    Like

  3. Kangen ke Pulau Samosir, terakhir ke pulau ini tahun 2009 😦
    Ingin ajak anak-anak ke sini, biar kenal sejarah kampung halaman mamaknya 😀
    Daku juga nggak tahan perjalanan dari Parapat ke Medan atau sebaliknya, jauh sekali.

    Like

  4. Waah… Kok bisa rejeki bgt mb dpt hotel gratis bgtu yaa. Gmn tuh dapetinnya? Hihii mupeeng.
    Oya bulan lalu aku jg baru dr samosir. Nginep di Toba Village Inn (tp ngga gratis, hiks) . Rekomendid juga hotelnya. Skali2 bole coba kesitu mb 🙂

    Like

    1. Ia mba, alhamdulillah kebetulan dapet hotel gratis, hihi.. wah, ia mba, kemarin pas nganterin penumpang juga sempat berhenti di Toba village inn, kayaknya bagus ya? Makasih infonya mba^^

      Like

  5. Tiap kali mudik ke sibolga pasti slalu lewatin danau toba. Dan biasanya kita berhenti sbentar sekalian suami istirahat krn capek nyupir kesana :D. Tp kalo nginep di samosirnya aku baru sekali mba, pas study tour jaman smu :p. Kita nginep kesana… Aku cm ingetnya sempet ke kuburan raja2nya.. Trs ada pertunjukan tarian tradisional.. Hrs kesana lagi sih, ga bosen aku 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s