Diary

Jadi ceritanya kemarin baru bongkar2 kardus dan menemukan setumpuk diary-ku. Alhasil hampir seharian aku berdiam diri dikamar untuk membaca tumpukan diary2 tersebut. Memang aku mulai membiasakan diri untuk menulis diary sejak kelas 1 SMP dan kebiasaan ini rutin—hampir setiap hari—kulakukan sampai aku kelas 3 SMP. Ketika SMA, mulai timbul rasa malas untuk menulis diary, karena pada awal masuk SMA aku sedikit sebenarnya sangat tidak tertarik dengan lingkungan SMA-ku (pada awalnya memang aku masuk SMA-ku ini dengan terpaksa). Jadi untuk menulis diary-pun rasanya maleeeesss banget. Menginjak kelas 1 semester 2 mulailah muncul benih2  betah di lingkungan sekolahku ini. Sehingga akhirnya aku mulai menulis diary lagi, meskipun intensitasnya bisa dibilang sangat jarang jika dibandingkan ketika aku masih SMP. Sebenarnya memang menulis diary bagi orang sepertiku cukup bermanfaat. Sungguh menyesal, hampir 5 tahun belakangan ini aku sangat sangat sangat jarang menulis diary, sehingga kejadian2 itu rasanya hanya berlalu begitu saja..

Ternyata dengan membaca ulang diary tersebut, sedikit banyak dapat membuka kembali ingatanku jaman2 dahulu. Meskipun kuakui ada bagian yang nggak penting dan geje, tapi disisi lain ada hal yang positif yang kutemukan dari membaca diary2 tersebut. Melalui diary tersebut aku bisa menilai dan membandingkan diriku yang dulu dan sekarang, karena diary bisa diibaratkan sebagai cerminan diriku dimasa lalu, yang dengannya aku bisa menilai kekuranganku dan belajar dari hal tersebut bagaimana seharusnya aku bersikap. Selain itu, sangatlah mungkin ketika diary itu kutulis aku menilai bahwa A adalah sesuatu yang benar dan B salah, namun ternyata dengan membaca ulang aku menjadi lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi sehingga dengannya aku dapat merubah atau lebih tepatnya memperbaiki pola pikirku.  Disamping itu, karena memang tidak mudah bagiku untuk mengingat2 secara detail suatu kejadian dalam jangka waktu bertahun2, dengan membaca ulang diary ternyata cukup membantu untuk mengingat2 hal2 yang telah terjadi. Bahkan ketika membaca ulang, aku menjadi bisa membayangkan kembali setting tempat dan waktu serta orang2 yang terlibat didalamnya. Jadinya berasa seperti menonton adegan dalam film, karena secara otomatis ketika aku membacanya, otakku merefleksikannya kebentuk nyata (ketika peristiwa tersebut terjadi). Lain halnya jika aku tidak  menuliskannya. Jika aku tidak menulisnya mungkin akan banyak pelajaran2 berharga yang luput dari ingatanku. Menurutku juga, dengan membaca ulang diary itu sedikit bisa lebih mendewasakan diri..

Sekian postingan ini… Abaikan jika tidak bermanfaat ;p

Selesai ditulis—ditengah rasa jenuhnya mengerjakan cekripcweet—di Pogung Dalangan, 3 Desember 2013, 23.00 WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s